cari blog

Minggu, 13 Juni 2010

berdoa agar tetap istiqomah

Dalam sebuah perbincangan kecil antara dua orang aktivis dakwah yang saat ini berkecimpung di dunia politik. Keduanya membicaraka tentang beberapa pendahulunya yang bagi mereka sepertinya ada perubahan, khususnya dalam hal etika berjamaah. Bagi mereka dakwah tetap harus dilakukan berjamaah apalagi dalam dunia politik. Karena kalau sendiri dalam dunia politik maka mereka menyakini akan terbawa arus negatif kekuasaan.

Kekuasaan ada memang ada beberapa kutub, yaitu positif dan negatif, Positif apabila dilakukan untuk kemaslahatan ummat sedangkan arus negatif, adalah apabila kekuasasan dimaksudkan untuk memperkaya diri sendiri dan mendzalimi orang lain, apapun alasannya.

Salah seorang dari mereka, sebut saja A, mempertanyakan kenapa orang-orang yang dahulu bersahaja, sederhana, dan juga tawaddu sekarang berbalik arah, tunduk dan patuh pada hawa nafsu.

Maka B pun menjawab dengan santai, “Memang fasilitas yang didapatkan selama ini, bisa jadi memburamkan seseorang, bahkan bisa jadi lingkungan yang dulunya mendukung pun bisa jadi berubah menjadi cobaan yang berat, yang tanpa disadari meresap dan menjiwai diri seseorang.”

Si B pun menambahkan, bisa jadi seseorang yang merasakan kekuasaan tadi masih komitmen, namun godaan orang-orang sekitarnya sangat kuat, misal anak dan istri, kan sudah jelas anak, istri merupakan cobaan, makanya kita pun dituntut untuk bisa mendampingi mereka dengan baik. oh iya Istri tidak hanya seorang loch tapi, keluarga besarnya juga mesti kita arahkan, khususnya bagi mereka yang berkecimpung di dunia dakwah, ujarnya.

Dan jangan lupa, saat ini kita memang masih bisa bicara seperti ini, namun nanti bisa jadi kita akan dihadapkan oleh permasalahan yang sama, namun konteksnya beda, hingga yang terpenting bagi kita saat ini adalah tetap berdoa agar kita dari sekarang maupun nanti tetap istiqomah di jalan yang ada ini, pungkas si B.
eaeaeaeeaeae???????/
untung g ada yang remidi

Catatan Pray

indonesia06 Juni 2010

Catatan tentang Pray

Ditulis sekitar 2 minggu yang lalu
Hilangnya Kebudayaan Indonesia

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya akan kebudayaannya. Bagaimana tidak? Kurang lebih 742 bahasa daerah, 33 pakaian adat dan ratusan tarian adat tercatat dari Sabang sampai Merauke. Sudah selayaknya kita sebut “miniatur dunia”.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa kebudayaan Indonesia konon berasal dari Peradaban Lemuria, peradaban yang besar setelah tenggelamnya peradaban yang juga kita kenal, Peradaban Atlantis. Konon Peradaban Lemuria itu bertempat lembah yang sekarang tenggelam di laut jawa. Peradaban Lemuria itu tenggelam ketika permukaan laut naik hampir 400 m seiring mencairnya es di kutub akibat perubahan iklim global. Sejarah ini, tidak begitu banyak dikenal oleh rakyat Indonesia mengingat pada tahun 1800an, Belanda mengangkut buku-buku dari Jawa sebanyak 5 kapal. Buku yang berisi tentang asal muasal kebudayaan Indonesia-pun hilang bersama buku-buku yang lain. Bisa dipahami juga bangsa Indonesia seperti bangsa yang kehilangan akar-nya.
Kebudayaan Indonesia yang begitu besarnya ini, sayangnya, tidak dijaga dengan baik dan benar oleh Rakyat Indonesia khususnya pemerintah. Berbagai macam kebudayaan dipatenkan oleh Negara tetangga. Satu contoh yang akan kita bahas adalah Reog ponorogo yang telah dipatenkan oleh Malaysia sebagai Tari Tradisional Malaysia dengan nama Tari Barongan.Itu dilakukan dengan hanya mengubah Pakem-pakem reog kecuali atribut-atributnya.
Mari kita bandingkan isi cerita dan sejarah Reog Ponorogo dengan Tari Barongan:
Menurut cerita kelahiran kesenian reog dimulai pada tahun saka 900. Dilatarbelakangi kisah tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana, Raja Kerajaan Bantarangin yang sedang mencari calon Permaisurinya. Bersama prajurit berkuda, dan patihnya yang setia, Bujangganong. Akhirnya gadis pujaan hatinya telah ditemukan, Dewi Sanggalangit, putri Kediri. Namun sang putri menetapkan syarat agar sang prabu menciptakan sebuah kesenian baru terlebih dahulu sebelum dia menerima cinta sang Raja. Maka dari situlah terciptalah kesenian reog.
Bentuk reog pun sebenarnya merupakan sebuah sindiran yang maknanya bahwa sang Raja (kepala harimau) sudah disetir atau sangat dipengaruhi oleh permaisurinya (burung merak). Tulisan Reog sendiri asalnya dari Reyog, yang huruf-hurufnya mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: rasa kidung/ingwang sukma adiluhung/Yang Widhi/olah kridaning Gusti/gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa. Penggantian Reyog menjadi Reog yang disebutkan untuk “kepentingan pembangunan”- saat itu sempat menimbulkan polemik. Bupati Ponorogo Markum Singodimejo yang mencetuskan nama reog (Resik, Endah, Omber, Girang gemirang) tetap mempertahankannya sebagai slogan resmi Kabupaten Ponorogo.
Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.
Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sejarah Tari Barongan itu ada di Malaysia ? Ada sebuah makalah tahun 1994 di Universiti Kebangsaan Malaysia yang judulnya “Perkembangan Seni Tari Barongan Sebagai Satu Permainan Tradisional Orang-orang Jawa di Batu Pahat, Johor.”
Dilihat dari makalah tersebut dapat dipastikan bahwa pelaku seni Tari Barongan di Malaysia adalah orang asli Jawa yang berdomisili di Johor. Ironisnya, pelaku-pelaku seni dari Jawa itu pindah ke negeri Johor karena mulai ditinggalkan pemirsanya di Jawa. Mereka menjadi warga negara sana, mengembangkan kesenian a la reog di sana, mengubah pakem-pakem reog kecuali atributnya dan memberinya dengan nama lain Tari Barongan… dan disambut baik!
Salahkah mereka? Salahkah Tari Barongan muncul di Malaysia? Secara pribadi : Tidak. Menurut saya, ini tidak bisa dikatakan sebagai kesalahan dari Malaysia. Kalau kita coba menilik sejenak di Taman Mini Jakarta, mari kita lihat, berapa banyak penonton pribumi asli yang menonton Tari Reog Jawa Timur ini. Atau mungkin kita dapat bertanya kepada kita sendiri, kapan sih terakhir kita nonton reog? Setahun lalu? Sepuluh tahun lalu ? Tidak ada salahnya kita bertanya dalam hati, berapa besar apresiasi kita terhadap kebudayaan di Indonesia.
Sudah menjadi rahasia umum, banyak pelaku seni, kaum terpelajar, kaum cendekiawan yang berasal dari Indonesia berkarya dengan sangat hebatnya di negeri tetangga. Tidak ada penghargaan di dalam negeri lah yang memacu mereka berkarya di negeri tetangga. Ada contoh kasus Spy Plane dari Malaysia
Cuma beberapa gelintir saja negara yang memiliki pesawat mata-mata tanpa awak (UAV). Amerika dan Israel jelas yang paling aktif memproduksi. Di Asia ada India, Pakistan, Jepang, Cina dan Korea yang punya program khusus untuk bikin spy plane semacam itu, walau masih bergantung pada perangkat-perangkat dari Israel. Indonesia akan membeli spy plane dari Israel. Dan Malaysia akan membuat sendiri spy plane tersebut.
Siapa otak di balik UAV bikinan Malaysia ini? Dr. Endri Rachman, seorang mantan engineer di IPTN yang hijrah ke Malaysia dan menjadi pengajar di Universiti Sains Malaysia. Dengan kata lain : orang Indonesia. Salahkah? Ya kalau di IPTN cuma digaji Rp 500 - 900 ribu, sementara pemerintah Malaysia mau mengucurkan 1 milyar untuk bikin prototipe UAV… Kita bener-bener punya sejarah yang buruk tentang bagaimana memperlakukan orang-orang pinter negeri ini. ( Watung Blog, 2 Desember 2007)
Mungkin sudah saatnya kita lebih menghargai kita sendiri. Mungkin pepatah “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai diri nya sendiri” harus kita amati benar-benar. Penyesalan hanya akan datang di akhir episode, tapi harapan, jelas ada di setiap episode kehidupan.


Rabu, 16 Desember 2009

kawah ijen,cerita tentang keindahan dan kerasnya hidup



Jumat, 17/07/2009 07:38 WIB
Kawah Ijen, Cerita Tentang Keindahan dan Kerasnya Hidup
Ramadhian Fadillah - detikNews

foto: Ramadhian/detikcom
Jakarta - Sudah menonton film 'King'? Selain ceritanya yang memikat, setting filmnya pun mempesona. Alam Banyuwangi yang indah diexplore habis-habisan. Salah satunya adalah Kawah Ijen.

Kawah ijen merupakan Kaldera Gunung Ijen. Lokasinya terletak antara Bondowoso dan Banyuwangi, Jawa Timur. Selain keindahannya yang luar biasa. Kawah ini merupakan tempat penambangan belerang tradisional terbesar di dunia. Detikcom sempat mengunjunginya pada akhir tahun lalu.

Aktivitas para penambang ini dimulai saat dini hari. Puluhan penambang mulai mendaki puncak Gunung Ijen. Semuanya membawa keranjang dari bambu. Tua dan muda, mereka berjalan beriringan. Dinginnya udara yang menusuk tulang coba dilawan dengan kepulan rokok lintingan.

Keindahan matahari terbit di puncak Gunung Ijen bukan milik para penambang itu. Mereka masih harus turun ke dasar, mengumpulkan belerang untuk menyambung hidup.

Belerang dialirkan dari perut bumi dengan pipa-pipa. Para penambang memecahkan belerang yang telah mengeras sehingga bentuknya miri bongkahan-bongkahan batu. Kemudian mengangkutnya dalam keranjang-keranjang yang mereka bawa. Semuanya dilakukan dengan tenaga manusia.

Di dasar kawah, mata terasa perih. Udara panas dan uap belerang menyesakkan tenggorokan dan dada. Tidak ada prosedur keselamatan kerja bagi para penambang di sini. Jangan harap ada masker atau kacamata hitam anti UV. Cukup kain ala kadarnya yang diikatkan pada hidung dan mulut mereka, sekedar untuk menahan perih.

Tapi yang paling luar biasa adalah kemampuan mereka membawa belerang. Seorang penambang mampu membawa 40 hingga 60 kilo belerang. Berbaris seperti kuda beban, mereka merayap naik dari kawah yang curam. Kadang langkah mereka berhenti, sekedar mengatur nafas. Jalan lagi, berhenti lagi, begitu seterusnya.

Untuk satu kilogram belerang mereka hanya dibayar Rp 550. Padahal jarak yang harus mereka tempuh lebih dari 10 km. Di pos penghitungan, nasib mereka ditentukan. Tidak mungkin curang karena belerang akan melewati dua kali pos penghitungan. Silakan hitung sendiri pendapatan mereka.

Pergilah ke Kawah Ijen, dan bersyukurlah atas rezeki yang anda terima hari ini.

(rdf/nvc)


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

bekerjalah dengan cinta

Tuesday, April 19, 2005

Bekerjalah dengan Cinta



Wanita paruh baya itu berperawakan pendek dan sedikit gemuk. Beberapa helai uban turut menghiasi mahkota kepalanya yang diikat dengan penjepit rambut. Namun raut wajah bulat telur itu seakan tak pernah sekalipun terlihat cemberut. Ia selalu tampak riang, sehingga menyembunyikan parasnya yang jelas telah digurati keriput.
Wanita itu memang tidak terlalu renta, tetapi kekuatan dan kegesitan di masa mudanya niscaya telah direnggut usia. Karenanya, percayakah bahkan dari dirinya pun akan ada sebuah pelajaran tentang makna cinta?
* * *
Selalu...
Sabtu adalah hari yang ditunggu. Hari di mana nafas bisa dihela dengan panjang, dan sejenak mengistirahatkan raga dari rentetan kesibukan yang melelahkan. Saatnya pula untuk menikmati kebersamaan dengan seisi anggota keluarga. Sehingga, berbelanja di sebuah supermarket dekat rumah pun menjadi hiburan yang tak kalah meluahkan kebahagiaan.
Namun sepertinya tidak bagi wanita itu. Bagaikan tak mengenal hari libur, nyaris setiap waktu sosoknya selalu kutemui di sekitar kokusai kouryuu kaikan serta kampus.
Layaknya hari kerja, dikemasnya sampah-sampah yang berserakan serta dipisahkan antara yang terbakar dan tidak. Lantas ditaruhnya pada plastik yang berbeda warna. Sebentar kemudian diambilnya kain untuk mengelap kursi dan meja. Tak lupa, dengan vacuum cleaner dibersihkannya juga permukaan lantai. Setelah selesai ia segera beranjak ke toilet, lalu dengan mengenakan sarung tangan plastik dibersihkannya bekas kotoran manusia tersebut tanpa raut muka jijik.
Ia seperti tak peduli rasa lelah atau letih, walaupun terlihat pakaian seragam cleaning service biru mudanya telah basah bersimbah keringat. Tak juga kepenatan menyurutkan keramahannya untuk bertegur sapa dengan siapa saja saat bertemu muka.
Wanita itu entah siapa namanya. Hanya dengan panggilan obachan ia biasa disapa. Saat bersua denganku, juga selalu disempatkannya bertanya kabar. Bahkan ia pernah bercerita panjang lebar tentang anak-anak serta cucunya karena sering melihatku berjalan-jalan dengan keluarga. Beberapa kali pula saat usai kerja kulihat ia sedang berbelanja, masih lengkap dengan seragam biru mudanya. Lantas ditaruh barang-barang tersebut dikeranjang, dan perlahan dikayuhnya pedal sepeda tua untuk beranjak pulang.
Entahlah, rasanya tak ada perasaan iri dihatinya saat di hari libur ia ternyata harus bekerja, sementara aku justru berleha-leha. Ia bahkan tetap saja semangat bekerja dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan obachan dan ojichan lain yang pernah kutemui, mereka selalu asyik menikmati pekerjaannya. Mencabut rumput liar di pekarangan kampus ketika musim panas, menyapu jalanan dari daun yang berserakan pada musim gugur, bahkan dengan bersusah payah turut menyerok tumpukan bongkahan salju di musim dingin.
Terlihat betapa bergairahnya mereka ketika memang waktunya harus bekerja. Gairah dalam bentuk kesungguhan dalam menekuni apapun jenis pekerjaan, yang mungkin tak dipandang orang walau dengan sebelah mata. Karenanya, tak terdengar ngalor-ngidul obrolan hingga jam istirahat tiba untuk sejenak melepaskan lapar dan dahaga. Berselang satu jam kemudian, mereka akan kembali sibuk menekuni pekerjaannya. Senantiasa egitu, dari waktu ke waktu.
Rutinitas mereka mungkin tidaklah istimewa. Bekerja demi memperoleh sedikit nafkah atau sekedar menghabiskan waktu luang, tentu lebih baik dari bermalas-malasan di rumah. Terlebih-lebih itu adalah pekerjaan kasar, bukan kerja kantoran yang menyenangkan dengan penyejuk atau pemanas ruangan.
Lalu mengapa mereka selalu saja bekerja seolah tak pupus oleh lelah? Bahkan bekerja bagaikan sebuah energi yang tak kunjung padam, mengalir dalam pembuluh darah serta menggerakkan jiwa dan raganya.
Sekejap akupun tepekur, kemudian mahsyuk merenung...
Dan kulihat ada gairah membara yang berpendar dari balik kerut-merut kelopak mata tua itu. Seolah sinar matanya menyiratkan pesan agar bekerjalah dengan cinta. Karena bila engkau tiada sanggup, maka tinggalkanlah. Kemudian ambil tempat di depan gapura candi untuk meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita. (Kahlil Gibran). Wallahu a'lamu bish-shawaab.
-Abu Aufa-
Catatan:
- Kokusai kouryuu kaikan: International House
- Obachan: wanita berumur, setengah tua
- Ojichan: pria berumur, setengah tua
Sumber: Eramuslim.com - 01/02/2005 08:16 WIB
 
 
 
budi

kerendahan hati palsu

Wednesday, April 20, 2005

Kerendahan Hati Palsu



Mungkin Anda kenal orang yang memaksa orang lain memberi pujian dengan menggunakan reverse psychology.
Percakapannya kira-kira seperti ini:
Ia berkata, "Saya bermain piano buruk sekali!"
Maka Anda berkata, "Ah enggak. Menurut saya, permainan piano Anda bagus sekali.'
Ia berkata, "Tidak juga. Saya melakukan banyak kesalahan.
Maka Anda berkata, "Tetapi menurut saya sangat hebat"
Ia berkata, "Ah, Anda hanya mencoba menghibur saya."
Maka Anda berkata, "Sungguh. Anda benar-benar luar biasa!"
Ia berkata, "Terima kasih... tetapi saya pemain yang buruk."
Bukankah percakapan tersebut menjengkelkan?
Kita wajib mengakhiri percakapan konyol seperti itu secepat mungkin, dan mulai membicarakan hal yang masuk akal!
Orang berprestasi tidak menggunakan tipuan kerendahan hati palsu.
Mereka tidak memancing pujian tetapi kalau dipuji, mereka menerimanya dengan tulus.
Selalu ucapkan terimakasih atau kata-kata lain yang sejenis.
Mengapa?
Jika kita dengan tulus menghargai diri sendiri, kita tidak perlu mengumumkan ke orang lain betapa baiknya diri kita. Hanya orang yang tidak yakin atas harga dirinyalah yang mengumumkannya ke semua orang.
Yang perlu kita ketahui adalah bahwa menerima pujian bukanlah sikap yang perlu dipersoalkan. Kita tidak perlu menjadi seorang yang sempurna untuk mengucapkan terima kasih setelah menerima pujian.
Orang yang sukses selalu mengucapkan, "Terima kasih." Mereka menyadari bahwa mengakui telah mengerjakan sesuatu dengan baik adalah sikap yang sehat.
Jika Anda memberi selamat kepada Greg Norman atas kemenangannya di sebuah turnamen golf, ia tidak akan berkata, "Itu hanya kebetulan,"
atau "Saya kebetulan sedang beruntung." Ia akan berkata, "Terima kasih." Jika Anda memberi selamat kepada Paul McCartney atas keberhasilannya membuat lagu yang menjadi hit, ia tidak akan berkata, "Kamu gila! Lagu itu sangat jelek." Ia akan berkata, "Terima kasih."
Pujian adalah suatu hadiah. Perlu pemikiran dan usaha untuk memberikan pujian kepada seseorang. Seperti halnya kalau Anda memberi hadiah kepada seseorang, Anda akan merasa kecewa jika hadiah itu dikembalikan kepada Anda. Ini adalah alasan lain mengapa kita sebaiknya menerima pujian dengan senang hati.
Coba bayangkan seorang teman Anda memuji penampilan Anda dan Anda menanggapi, "Tetapi bibirku tebal dan kakiku pendek!" Anda akan merasa tidak enak karena Anda tidak menerima pujian itu sesemangat teman Anda ketika ia melontarkannya. Ia juga merasa tidak enak karena alasan yang sama, dan akan mengingat Anda sebagai seorang teman berbibir tebal dan berkaki pendek.
Jadi, mengapa tidak mengucapkan "terima kasih" saja?

Sumber: KCM - Jumat, 15 April 2005
 
 
 
 
budi

aset yang terabaikan

Wednesday, April 20, 2005

Aset Yang Terabaikan




Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. - St. Paul
Li Pai adalah seorang bocah yang suka bermalas-malasan dalam belajar.
Ia lebih senang bermain-main daripada menghabiskan waktunya untuk membaca atau menulis. Suatu hari, saat gurunya tidak masuk, Li Pai keluar dari kelas dan pergi bermain-main di tepi sungai. Ketika hendak menangkap ikan, ia melihat seorang nenek sedang memusatkan perhatiannya pada sebatang besi yang diasahnya di atas sebuah batu.
Selama setengah hari, Li Pai memperhatikan nenek tersebut bekerja namun si nenek tetap saja mengasah batang besi tersebut. Li Pai menjadi sangat bingung. Penuh rasa penasaran, Li Pai pun bertanya, "Nenek sedang apa?"
Nenek yang sudah tua itu pun menjawab, "Saya sedang mengasah sebuah jarum untuk menyulam." "Mengasah jarum? Batang besi sedemikian besarnya, mau diasah sampai kapan?" kata Li Pai penuh rasa heran. "Benar, nak!" ujar nenek sambil mengangkat kepala dan memandang Li Pai, "walaupun batang besi ini besar, namun jika terus diasah akan menjadi semakin kecil. Asalkan saya tidak berhenti mengasah, batang besi ini pasti akan menjadi jarum." Mendengar itu, terbukalah mata hati Li Pai. Ia menjadi sadar betapa seringnya ia membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Saat itu juga ia mengambil komitmen untuk lebih tekun dalam belajar. Puluhan tahun kemudian ia pun dikenal sebagai seorang penyair besar.

Cerita tentang Li Pai ini seakan hendak "menyindir" begitu banyak umat manusia di muka bumi ini. Bagaimana tidak, terlalu sering kita menghabis-habiskan waktu dan energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif. Mulai dari sekadar tidur berlama-lama, melamun hingga berjalan-jalan tanpa tujuan yang pasti. Sebagian orang barangkali menyadari kesia-siaan tersebut namun tampaknya sebagian besar sama sekali tidak menyadarinya.
Salah satu aset berharga demi meraih kesuksesan hidup adalah waktu yang diberikan Tuhan kepada manusia. Selama kita masih hidup, kita selalu punya peluang untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.
Saya rasa, Tuhan sangat adil karena semua manusia diberikan waktu 24 jam sehari. Bukankah tidak ada manusia yang diberikan waktu 23,5 jam sehari atau 25 jam sehari? Semua diberikan waktu yang sama namun bagaimana kita memanfaatkannya sepenuhnya tergantung kita.

Dalam berbagai seminar dan training saya selalu menegaskan bahwa salah satu hal mencolok yang membedakan orang sukses dan orang gagal adalah bagaimana mereka mengisi waktu mereka. Ketika orang-orang gagal sedang duduk sambil ongkang-ongkang kaki, orang-orang sukses telah memulai menabur dan bekerja keras. Itulah sebabnya ketika orang- orang sukses menuai, orang-orang gagal hanya bisa gigit jari, bahkan terkadang merasa iri.
Ketika memberikan training di sebuah toko buku besar di Jakarta, saya bertanya kepada para staf berapa banyak waktu yang mereka luangkan setiap hari untuk membaca. Anehnya, sebagian besar menjawab sama sekali tidak pernah. Alasannya sangat sederhana: tidak punya waktu.
Kemudian saya balik bertanya, setiap hari berapa jam yang mereka habiskan di atas kendaraan umum untuk pulang pergi kerja. Umumnya menjawab satu hingga dua jam. "Nah, mengapa satu sampai dua jam itu tidak diluangkan untuk membaca?" tanya saya. Jika kita tahu mana yang penting dan merupakan prioritas maka kita lebih terdorong untuk melakukannya secara serius. Jika tidak, kita cenderung diombang- ambingkan oleh kehidupan dan membiarkan waktu berlalu begitu saja.

Seorang sahabat pernah memberikan saya sebuah puisi berjudul Pentingnya Waktu. Berikut kutipannya: "Untuk mengetahui nilai satu tahun, tanyakanlah kepada siswa yang gagal ujian akhir. Untuk mengetahui nilai satu bulan, tanyakanlah kepada ibu yang melahirkan bayi prematur. Untuk mengetahui nilai satu minggu, tanyakanlah kepada seorang editor surat kabar mingguan. Untuk mengetahui nilai satu jam, tanyakanlah kepada sepasang kekasih yang menanti untuk bertemu. Untuk mengetahui nilai satu menit, tanyakanlah kepada seorang yang baru saja ketinggalan bis, kereta atau pesawat. Untuk mengetahui nilai satu detik, tanyakanlah kepada seorang yang selamat dari kecelakaan.

Untuk mengetahui nilai satu milidetik, tanyakanlah kepada seorang yang meraih medali perak di Olimpiade."
Ya, waktu memang sangat penting. Tidaklah berlebihan jika ada orang yang selalu berdoa dan mengucap syukur atas waktu yang dikaruniakan Tuhan. "Terima kasih kasih Tuhan atas hari ini karena hamba-Mu masih Engkau perkenankan melakukan hal-hal berguna demi memuliakan nama-Mu di muka bumi ini," begitu doa seorang pemuda setiap bangun pagi.

Menjelang tidur, ia pun berdoa, "Tuhan terima kasih atas hari ini.
Terima kasih atas kesempatan yang telah Engkau karuniakan kepada hamba-Mu ini. Semoga apa yang aku lakukan hari ini sungguh berguna, tidak hanya bagi diriku tapi juga bagi sesamaku dan yang terpenting bagi kemuliaan nama-Mu. Barangkali aku memang belum bisa memanfaatkan waktuku secara maksimal. Semoga aku masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri esok hari. Amin."
Ijinkanlah saya menutup jumpa kita kali ini dengan nasihat dari seorang sahabat, "Seinci waktu adalah seinci emas tetapi kita tidak dapat membeli seinci waktu dengan seinci emas. Jadi, pergunakanlah waktumu sebaik-baiknya karena waktu yang telah lewat tidak akan pernah kembali lagi." ***

Sumber: Aset Yang Terabaikan oleh Paulus Winarto. 
 
 
budi

haruskah hati menciptakan jarak?

Wednesday, April 20, 2005

Haruskas Hati Menciptakan Jarak?


Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
 
 
budi