Dalam sebuah perbincangan kecil antara dua orang aktivis dakwah yang saat ini berkecimpung di dunia politik. Keduanya membicaraka tentang beberapa pendahulunya yang bagi mereka sepertinya ada perubahan, khususnya dalam hal etika berjamaah. Bagi mereka dakwah tetap harus dilakukan berjamaah apalagi dalam dunia politik. Karena kalau sendiri dalam dunia politik maka mereka menyakini akan terbawa arus negatif kekuasaan.
Kekuasaan ada memang ada beberapa kutub, yaitu positif dan negatif, Positif apabila dilakukan untuk kemaslahatan ummat sedangkan arus negatif, adalah apabila kekuasasan dimaksudkan untuk memperkaya diri sendiri dan mendzalimi orang lain, apapun alasannya.
Salah seorang dari mereka, sebut saja A, mempertanyakan kenapa orang-orang yang dahulu bersahaja, sederhana, dan juga tawaddu sekarang berbalik arah, tunduk dan patuh pada hawa nafsu.
Maka B pun menjawab dengan santai, “Memang fasilitas yang didapatkan selama ini, bisa jadi memburamkan seseorang, bahkan bisa jadi lingkungan yang dulunya mendukung pun bisa jadi berubah menjadi cobaan yang berat, yang tanpa disadari meresap dan menjiwai diri seseorang.”
Si B pun menambahkan, bisa jadi seseorang yang merasakan kekuasaan tadi masih komitmen, namun godaan orang-orang sekitarnya sangat kuat, misal anak dan istri, kan sudah jelas anak, istri merupakan cobaan, makanya kita pun dituntut untuk bisa mendampingi mereka dengan baik. oh iya Istri tidak hanya seorang loch tapi, keluarga besarnya juga mesti kita arahkan, khususnya bagi mereka yang berkecimpung di dunia dakwah, ujarnya.
Dan jangan lupa, saat ini kita memang masih bisa bicara seperti ini, namun nanti bisa jadi kita akan dihadapkan oleh permasalahan yang sama, namun konteksnya beda, hingga yang terpenting bagi kita saat ini adalah tetap berdoa agar kita dari sekarang maupun nanti tetap istiqomah di jalan yang ada ini, pungkas si B.
Kekuasaan ada memang ada beberapa kutub, yaitu positif dan negatif, Positif apabila dilakukan untuk kemaslahatan ummat sedangkan arus negatif, adalah apabila kekuasasan dimaksudkan untuk memperkaya diri sendiri dan mendzalimi orang lain, apapun alasannya.
Salah seorang dari mereka, sebut saja A, mempertanyakan kenapa orang-orang yang dahulu bersahaja, sederhana, dan juga tawaddu sekarang berbalik arah, tunduk dan patuh pada hawa nafsu.
Maka B pun menjawab dengan santai, “Memang fasilitas yang didapatkan selama ini, bisa jadi memburamkan seseorang, bahkan bisa jadi lingkungan yang dulunya mendukung pun bisa jadi berubah menjadi cobaan yang berat, yang tanpa disadari meresap dan menjiwai diri seseorang.”
Si B pun menambahkan, bisa jadi seseorang yang merasakan kekuasaan tadi masih komitmen, namun godaan orang-orang sekitarnya sangat kuat, misal anak dan istri, kan sudah jelas anak, istri merupakan cobaan, makanya kita pun dituntut untuk bisa mendampingi mereka dengan baik. oh iya Istri tidak hanya seorang loch tapi, keluarga besarnya juga mesti kita arahkan, khususnya bagi mereka yang berkecimpung di dunia dakwah, ujarnya.
Dan jangan lupa, saat ini kita memang masih bisa bicara seperti ini, namun nanti bisa jadi kita akan dihadapkan oleh permasalahan yang sama, namun konteksnya beda, hingga yang terpenting bagi kita saat ini adalah tetap berdoa agar kita dari sekarang maupun nanti tetap istiqomah di jalan yang ada ini, pungkas si B.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
aku pengen ada yang memberi saran